Masjid Azizi (2): Indah Luar Molek Dalam

0

Masjid Azizi (MA) tak cuma indah dari luar saja. Tak cuma titik sentral kota Tanjungpura dari ilmu penataan kota (urban planning) sahaja. MA begitu molek di bagian dalam dengan presisi detail yang inci demi inci begitu memesona. Dan…, berhawa sejok tedoh seakan dari bawah lantai dan dari atas kubahnya terpasang teknologi pendingin udara.

Perpaduan gaya dan jamak budaya global bisa dengan ringan dicerna dari tetiap lekuk tubuh MA. Keleh (artinya tengok, kata bahasa Melayu Langkat) hamparan lantai marmer. Arahkan sorot mata anda ke dinding bagian bawah yang bermotif kubus warna marun. Yang dibatasi lis berukir yang menyambung bagian bawah dan atas. Kelokkan haluan sorot mata 15 derajat ke kiri kanan, anda akan memelototi jerejak setinggi separoh badan menghiasi selasar, yang tiap 9 jerejak diapit tiang-tiang bentuk pilar dengan lengkungan bagian atas berbentuk ‘kong liong’ ala timur tengah.

Di ruang utama MA nyaris pas di tengah-tengahnya berdiri mimbar kayu ukir berkelir coklat yang tinggi bruto sekitar 5 meter. Lengkap dengan dua pasang tongkat yang melekatkan panji-bendera hijau bertuliskan kalimat shahadatain. Pas di titik as kubah utama tergantung lampu hias klasik yang berjenjang-jenjang.

Lenggokkan pandangan ke atas. Hiasan bermotif menyempurnakan indahnya langit-langit melengkung kubah utama. Pemandangan artisik itu dapat langsung disorot bola mata dari 3 arah pintu besar masuk MA. Di kanan kiri ada tingkap-tingkap kaca patri berwarna-warni menyala. Bergeraklah perlahan ke segenap penjuru menyusuri selasar yang mengitari seluruh dinding masjid. Kawasan selasar iut bebas hambatan yang terhubung dengan serambi-serambi yang menjorok ke luar berbentuk persegi panjang, dengan tiga anak tangga yang tak tinggi yang mudah untuk tiap serambi. Mudah dinaiki dan dituruni telapak kaki anak kecil pun. Masih banyak lagi detail presisi yang bisa diurai. Semuanya diwakili satu kata: molek. Molek yang tak lipu.

Ikhwal paling rumit dari karya situs bangunan adalah pada presisi detail interior, yang disentuh dengan seni strata tinggi. Dibina dengan rasa religiusitas, tak hanya dengan logika sekularitas. Aduhai…, usai merekam situs bagian dalam, sungguh MA berhasil merepresentasikan apa defenisi interior molek dan cita rasa seni tinggi. Kadar seninya merata sampai ke sekujur pori-pori masjid. Tak usang sampai kini. Berkat khusuk doa yang dipanjatkan jamaah masjid. Dari waktu ke waktu, dari ebang ke ebang tanpa jeda.

Patik melangkah dari selasar menuju ke sisi serambi masjid. Beberapa depa saja patik sudah tegak berdiri di pelataran yang luas mengitari MA. Sembari mengambil anca untuk sebuah sudut bidik sempurna beberapa gambar bidang luar. Kiranya pelataran yang mengelilingi selasar-serambi cukup lapang lega menampung limpahan ribuan jamaah yang taknak bersesak pada saf-saf bagian dalam dan serambi luar MA.

Apa maksud sang arsitek membuat pelataran lapang itu? Patik sejenak membatin. Boleh jadi inilah twndensi sosio-relogiusnya? Yakni: ekspos watak penuh kelegaan yang guyup, lapang hati dan pikiran terbuka. Jika anda khusuk bertengadah di salah satu titik pelataran bagian penyangga MA itu, terpancar perasaan jiwa lega yang paling lega. Tersebab karena langsung beratap langit. Tembus ke langit ke-7.

Di bagian luar pelataran masjid dikelilingi pagar tebal sekitar 30 centi dan tingginya satu setengah meter bagaikan benteng inilah, dulu patik siswa SMA tahun 1983-1985 rajin mematuhi perintah guru agama Islam yang mewajibkan siswa hadir pengajian rutin malam rabu. (Al Fatiha untuk pak Ali Nurdin dan pak Muhammad).

Tak ada pengeculian, semua siswa-siswi wajib hukumnya hadir mengaji di sini. Walau sang siswa-siswi musti datang dari kecamatan sebelah bahkan Pangkalan Berandan dan Pangkalan Susu. Ramai sekali, jalan protokol seperti arakan pawai kala pulang mengaji, pas seperti suasana kota santri. Mengaji musti diuji nyali. Ujian iman. Yang indah dikunjungi lagi sebagai kenangan.

Sungguh, patik tak pernah bosan dan bahkan kerapkali bergelimang sukaria senang tatkala berlama-lama ontok disana. Ridho hati dikuasai aura religius MA.

Ohya, bagian akhir dari album ini disajikan 1 foto gedung Mahkamah Kesultanan Langkat. Tak jauh dari depan agak ke kanan posisi MA. Bukan bangunan sembarangan. Di situ pernah berkantor Tengku Amir Hamzah yang menjabat Kepala Mahkamah Langkat saat itu. Tersebab Kubusu, panggilan akrab untuk Tengku Amir Hamzah, pernah mengecap sekolah hukum sampai strata C1 di Recht Hoge School (RHS) Batavia tahun 1930. Tengku Amir Hamzah sosok republiken tulen yang pernah Sekretaris Indonesia Muda dan pencetus Sumpah Pemuda serta pengusul bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan dalam Kongres Pemuda 1928.

Saat pengambilan gambar, ratusan anak-anak sekolah tengah berlatih drum band persiapan perayaan 17 Agustus. Girang dan semangat terpancar dari anak remaja muda belia yang tampak bercucuran peluh keringat memainkan alat-alat musik drum band yang takterlalu mewah.

Kembali ke RHS yang diikuti Amir Hamzah. Tak banyak orang yang bisa masuk sekolah hukum Batavia kala itu. Tak banyak pula yang menyoroti kiprahnya dalam menegakkan keadilan yang pro rakyat. Yang kini dikenali dengan mazhab restorative justice, yang tak melulu menjatuhkan pidana badan alias penal sanction.

Ada pula 2 foto sekolah dibangun Sultan Langkat. Saat patik sekolah itu diberi titel SD No. 1 yang kemudian berubah menjadi SD 050724. Kepala sekolahnya perempuan tangguh bernama Hasnah, yang sekalgus mengajar kelas 1. Dua generasi, patik dan orangtua patik, mengecap pendidikan dasar di SD No. 1 itu. Ketahuilah, SD No. 1 itu sekolah yang dibangun Sultan Langkat. Sampai sekarang masih eksis dan siswanya banyak. Juga ada membangun Langkatsche School sekarang jadi gedung lama SMP No.1 dan Rumah Sakit Sultan yang kini jadi RSUD Tanjungpura. Betapa Sultan Langkat kala itu getol memperhatikan pendidikan dan kesehatan.

Rupanya, dalam membangun negeri dan kota, sultan tak hanya membangun masjid, juga sekolah dan gedung mahkamah. Masjid adalah nucleus sentralnya, karena ikon tatakota dan sangat dekat dari istana dan kampus Jamaiyah Mahmudiyah Li Thalabil Khairiah yang tegak persis di belakang MA. Indah Luar Molek Dalam adalah 4 kata yang mendefenisikan MA.

Pembaca, inilah sebagian potret bagian luar dan dalam MA, yang patik bidik hari Selasa, 15-08-2017, usai sholat ashar yang teduh.

No comments