Demokrasi Kulineri (3A) : Sedap Jangan Dimonopoli

0
Demokrasi Kulineri (1)

Pembaca. Banyak jenis dan ragam ikhwal makanan khas Deli yang menggiurkan lidah. Sebut saja lontong malam, kerang rebus pak Ripin Simpang Limun, durian Pelawi, mie Aceh Titi Bobrok, rujak buah kolam raja, sate kerang, sop tulang sumsum Pulo Brayan, mie rebus udang Tanjungpura. Daftarnya masih panjang dengan mie balap, martabak telor, sate padang simpang Bata, sate memeng Jalan Irian, roti canai dan putu mayam kampung Madras, xxx, yyy, zzz, ….., ….., dan kopi Aceh menggenapinya.

Saat senggang, dan mood berkumandang menjulang-julang, patik menyisakan kepingin hati  mengiat-giatkan serenceng tulisan  ihwal kulineri aseli Medan.  Walaupun dipakai nama Medan, yang dulunya Deli, bukan berarti semua daftar menu makanan tadi aseli dari Deli. Karena Medan tentu saja tak sekedar melanjutkan glory history Deli, tetapi persintuhan, persinggahan, integrasi dan harmoni daerah jirannya. Sebut saja Langkat, Serdang Bedagai, Asahan, Tanjung Balai, Karo dan Tapanuli, Nias,  yang semua akur  tinggal di Deli.

Setakat nanti perjalanan merampungkan proyek demokrasi kulineri aseli Deli, pada bab “Berjuta-juta Selera”, saya berencana   mewawancarai LD, sang toke/owner dan pemegang merek “SKD”, dan orang-orang pemegang resep rahasia dan berminat membukanya demi demokrasi kulineri. Ikhtiar untuk menggali  lagi belasan, mungkin puluhan bahkan ratusan jenis dan resep rahasia kulineri aseli versi andong dan unyang yang belum berkumandang, selain resep “SKD” itu. Menjadikannya milik publik dan menyajikannya sebagai menu kulineri, menjadikan resep kulineri tak lagi sepenuhnya rahasia.

Maksudnya hendak mendemokrasikan resep kulineri alias going public, menjadikan konsumen penggemar kulineri makin tergila-gila surplus bahagia ikhwal cita rasa. Kulineri perlu terbuka, membangkitkan “demokrasi kulineri” dan kuliner yang demokratis, tak lagi monopoli. Rasa enak dan cita sedap kulineri tak elok dimonopoli. Bergerak dari aras owning kepada sharing, mengadaptasi konsep business sharing. Pernah membaca buku Alex Stephany “The Business Sharing: Making it in The New Sharingv Economy”

Jujur, sebenarnya patik hendak mewartakan betapa Deli dan Langkat sangat kaya raya dengan cita rasa kulineri berselera, dan bersiap menjadi jawara dan kiblat “demokrasi kulineri”. Termasuk getuk, yang membuatnya seperti lakon menggebuk. Demokratiskah gebuk?

No comments