Demokrasi Kulineri (3) : Usia Menulis Vs Usia Makan

0
Demokrasi Kulineri (1)

Patik dan istri, Zulchaina Tanamas, memang pasangan cocok alias “pascok”. Walau dianya suka suka seni menyanyi dan kulineri, tapi kami sering seirama kalau mencari sensasi kulineri. Berburu tempat makan acap terjadi, patik mengamini saja sembari memancing inspirasi dn imaji demi sudut bidik tulisan. Sebagai advokat, profesi itu menghendaki  saya menuliskan bagaimana pikiran berjalan, bagaimana logika tegak terbuka dan rasa bergelora. Menuliskan buah pikiran alias gagasan lebih mudah dari pada meruntutkan jalan pikiran, walau beberapa paragraf saja.

Kalau membaca syair tiap memulai pagi yang melengkapi menu makan sarapan, konon itu membuat makin cerdas batin, maka tak salah jika saya percaya dan bangga dengan postulat ini: “Menulislah, Anda Sejahtera!”

Saya selalu mencari kalimat dan kosa kata yang memantulkan kejutan bertenaga, dan tabah memungut dan mengoleksinya dari nasib sang kata tanpa penghargaan selayaknya, apalagi menjadi sia-sia. Bersiaplah untuk tiap hari terperangah kagum dengan kosa kata aduhai dan kalimat molek yang memakmurkan rasa bahasa. Puas rasanya kala memungut kalimat molek yang tersuruk dalam cerita pendek ataupun terselip dan tersisip di “lekuk tubuh” sebuah esai siapa saja. Yang sekaligus mempertajam inspirasi-imajinasi.

Kata orang yang piawai mengolah kosa kata dan kalimat, penulis bagus mesti lahap membaca karya bagus dari kilauan imajinasi yang bagus. Selain bertenaga, kalimat dalam bahasa bisa menjadikan kita terlena kena adiksinya. Takdirnya molek menjadi syair atau bait puisi.

Saya mengamal-amalkan kebiasaan ringan, yakni menulis ikhwal apa saja sesuai selera dan lecutan pikiran sesederhana apapun dia, walaupun separagraf saja dan dituliskan dalam lekuk hati pula. Syukurnya hati patik selalu lapang seluas samudera, tak kekuarangan ruang menuliskan apa saja. Anggaplah  seperti pertambangan batu permata, kata-kata anda akan makin berbinar-binar jika digali dari hati sanubari: “writing with heart”. Dipoles dengan leksika dan alegori bahasa. Pembaca, nikmatilah usia menulis anda. Selain usia membaca dan usia berpikir.

Kalau anda kekurangan waktu luang, sempatkalah menuliskan satu kalimat pendek dari sebuah ide tunggal dan ringan, percayalah kelak anda bisa mengembangkannya menjadi tulisan panjang.  Lakukanlah dengan riang hati, kelakuan itu yang membuat patik betah berlama-lama diam sendiri dengan lincah jemari mengetik ke sana ke mari.  Suara hentakan tuts laptop pun mendesis, ketika patik “menikam malam jahanam” menjadi berhelai-helai tulisan, ikhtiat menambah panjang usia menulis.

Di awal esai ini patik memperkenalkan kosa kata baru “demokrasi kulineri”. Bisa jadi ikhtiar mengolah kosa kata dan kalimat, idemditto ikhtiar mengolah bahan baku daging dan tulang kepala kambing, dengan racikan bumbu tertentu dan cara olahan yang juga tertentu, plus jurus sajian yang jenius, pada akhirnya berbuah manis menjadikan “SKD” menu bermutu. Tak usah segan menggemakan dan menambahkan kosa kata “sop kambing datok” yang diciptakan sahabat saya LD ke dalam kamus demokrasi kulineri Deli, apalagi saat almanak bulan puasa tiba.

Begitulah ritme dan pengolahan khas menu sop dengan daging dan kepala kambing sebagai bahan baku yang sangat biasa, namun perkincahan yang serius dari hati dan diracik dengan khas yang akhirnya berlabuh sebagai menu “SKD” yang tak biasa. Walaupun kata “sop” dalam kamus kulineri,  maupun frasa “daging/kepala kambing” itu sangat amat biasa dalam daftar bahan panganan nusantara bahkan dunia, namun lewat tangan dingin LD kosa kata “sop kambing datok” menjadi tak biasa-biasa.

Di titik manakah rahasia keistimewaannya? Bisa jadi pada racikan bahan dan sajian bumbu, berikut suasana khas indikatif Melayu yang tak lesap, berjasa membuat “SKD” enak, renyah dan berpenampilan indah. Seperti kalimat tulisan yang digali dari “pertambangan permata” hati.

Cita rasa enak itu memang jujur, rasa sesap itu tak bisa bohong. Boleh juga menyebutnya demokratis. Kata “demokrasi” dan kata “kulineri” memang pasangan cocok. Eureka, “demokrasi kulineri” memang pascok!

No comments