Astakona Asmadi

0

Petang itu sorot mentari jatuh ke halaman sekian buku roman alegoris ‘Cinta Kontroversial Yusuf dan Zulaikha’.

Bola mataku tertumbuk dengan kalimat ini: “…calon murid datang kepada guru sufi menyampaikan niat ingin berguru. Sang sufi bertanya kepadanya apakah dia pernah jatuh cinta? Ketika calon salik itu menjawabnya dengan ‘tidak’, sang guru menyuruhnya pergi dan tidak membolehkannya kembali menyantri sampai dia mencicipi tuak cinta yang memabukkan”.

Rupanya menjadi murid sang guru suluk dalam mencari sensasi transendental cinta Ilahi Rabbi musti bisa mabuk “tuak” cinta yang bibitnya bertaburan di hati. Mabuk cinta yang insaniawi.

Begitulah dalam berkesenian, hanya berdegup hidup dengan kesukariaan hati yang berlimpah-limpah.

Itulah kalimat yang sontak melecut dari lekuk hati patik, sehingga mafhum kiprah sahabat saya Asmadi A.Rahman yang tabah dalam berkesenian. Yang melecut saya tulus menuliskan esai ini.

TAKDIR SOSIAL

Selain tersebab surplus cinta, Asmadi seakan punya “generator” semangat dan pemilik bakat bawaan darah seni. Tak ada yang menghentikan semangat yang berkahwin dengan bakat, yang disirami dengan “air” ketekunan dan dipupuk dengan “zat hara” ketabahan dosis tinggi. Yang menjadi “nuklir” baginya melampaui hari-hari berkesenian.

Itu seponggol kalimat yang patik anggap tepat menjelaskan sosok sahabat saya Asmadi A.Rahman.

Kawan patik sejak SMP dan SMA itu pantas disebut ahli sekaligus praktisi ikhwal seni tari, drama dan musik.

Tersebab dia lulusan IKIP Medan jurusan sendratasik (seni drama tari dan musik). Jurusan yang dipilihnya dengan sadar, sengaja dan terencana. Bukan pilihan hompimpah dan asal-asalan mengikuti Sipenmaru, Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru.

Jurusan itu pilihan jiwanya. Kampus itu tempat subur baginya untuk membenihkan semangat dan bakatnya membina kasmaran stadium akut pada sendratasik.

Sejak di Tanjungpura, Langkat, Sumatera Utara yang dulu ibu negeri Kesulthanan Melayu Langkat, anugerah bakat genetis darah seninya mengalir kuat dan mencuat-cuat. Bak musim hujan bulan September-Desember yang meluberkan air sungai Batang Serangan yang membelah ekosistem kota Tanjungpura.

Patik ingat betul, segala urusan kesenian di sekolah diurusnya ligat. Semangatnya jumbo mengalahkan tubuhnya yang ramping melangsing, kalau tak hendak menyebutnya kerempeng. Kesenian adalah takdir sosial bagi Asmadi.

BUSUR DAN ANAK PANAH

KiKa- Muhammad Joni, Asmadi A.Rahman, Hidayat Anshari di galeri seni Astakona

Eureka…, sekolah dicipta tak hanya menjadi “lingkungan pintar” tetapi juga bak perkakas busur yang melesatkan bakat siswa anak muda belia. Seperti tamsil busur dan anak panah yang melesat menuju bidang lingkaran sasaran ala syair indah sang Kahlil Gibran. “Anakmu bukan milikmu, mereka putra putri kehidupan, yang melesat menemui zamannya”.

Di luar busur sekolah dia aktif berteater. Entah bagaimana dia membagi waktunya dari kegiatan kepramukaan dan baris berbaris yang juga diikutinya.

Diakunya, pernah tekun belajar teater seni peran di kota mungil molek itu. Berkali-kali tampil “pro bono” di TVRI Medan kala itu.

“Dulu di kota molek kecamatan Tanjungpura ada 2 sanggar teater yang hebat”, kenang Asmadi dengan sorot bola mata yang tersenyum.

Seingat saya namanya ‘Tegal’, akronim dari Tegak Lurus dan ‘Sanggar Deru’. Banyak kawan SMP saya menjadi “santri” sanggar itu. Sependek ingatan saya, kawanku Nela Aryaneva dan “Ucok” Yezerieli sempat tenar kala itu dari pentas teater. Nela Aryaneva tak menampik itu saat patik minta konfirmasi, malah mengaku pernah tampil di luar propinsi.

Aura Tanjungpura memang sehat untuk surplus bibit bakat seni.

Selain jamak kisah lamanya dalam unjuk bakat, Asmadi mengaku pernah lama belajar di SIR (Sri Indera Ratu), satu komunitas seni yang fenomenal berbasis di Medan.

Tak puas pendidikan akademis S.1 bidang seni, ilmunya ikhwal sendratasik disempurnakan dengan level magister alias S.2 bidang yang sama di almamaternya, yang kini bernama UNIMED Medan.

Kesibukannya makin membubung. Sebab dia idemditto pegawai negeri sipil yang sehari-hari berprofesi guru kesenian pada SMA 5 Medan.

“Sudah hampir 30 tahun mengabdi jadi guru”, ujar Asmadi di galeri seninya yang bertitel Astakona.

PANGKALAN SENI: SETANGGI PURA

Asmadi A.Rahman dan istri

Apa pulak itu Astakona? “Itu bagian dari istana, yang bertingkat tiga. Astakona adanya di tingkat kedua”, ulas Asmadi.

Bekal pendidikan formal akademis dan sederet rentak pengalaman berkesenian, membulatkan format potret diri Asmadi sebagai praktisi kesenian.

Kini Asmadi mengelola sendiri “usaha” kesenian. Asmadi dan anak didiknya acapkali ikut festival sendratasik, di dalam dan luar negeri. Berkesenian adalah takdir sosialnya.

Di Medan Asmadi yang lahir dan besar di Tanjungpura namun dari trah marga Hasibuan itu gigih membina geleri merangkap sanggar seni. Sudah menjadi melayu, malahan ‘Sangat Melayu’.

Watak Melayu memang terbuka dan lapang budaya, sebut saja ini anasir kosmopolitan Malayu.

Kembali ke Astakona. Astakona, tak hanya sanggar namun nama usaha untuk label showbiz-nya.

Bagi Asmadi, Astakona tak hanya sangkak alias sarang yang menyenangkan hatinya sendiri. Itu detak nadi bakat seninya yang dari Astakona menebarkan hawa wangi seni kepada siapa saja yang suka.

Kiranya Astakona adalah dupa wangi “pertambangan” kesenian. Dia sangat girang kami bertandang dan tanya sana sini soal perca-perca giat berkeseniannya.

Astakona bagi Asmadi adalah pangkalan seni yang tabah dengan takdirnya menyebarkan kebahagiaan via kesenian, tepatnya sendratasik yang jadi bidangnya. Menebarkan asap hawa wangi sari pati kesenian, bak “Setanggi Pura”, dupa dari Tanjungpura. Mengikuti diksi “Setanggi Timur” (dupa dari Timur) diambil dari titel kumpulan syair Tengku Amir Hamzah.

Walau banyak even resmi dan budaya yang dipercayakan padanya, Asmadi tetap teduh, low profile dan tak payah berbagi ilmu. Walau yang bertanya adalah pemula yang awam seperti penulis.

Rabu siang itu, 16-08-2017, kami sengaja tandang ke Astakona miliknya, beralamat di Jalan Selamat 29, Simpang Limun, Medan.

Kami disambutnya dengan hangat sampai watas paling depan pagar jangkung Astakona. Di sana kami berdiskusi ringan alias sembang-sembang ikhwal resam dan ragam kekayaan seni budaya Melayu Langkat.

Patik bersama Hidayat Anshari, alumni SMA Tanjungpura yang pengusaha perumahan, dan Ketua Yayasan Langkat Membangun itu bisa melihat betapa tulusnya fi’il Asmadi pada bidang kesenian yang digelutinya. Digaulinya dengan cinta.

Pun, dalam hitungan menit kami sontak dijadikannya model sempurna busana Melayu Langkat, yang dominan warna kuning keemasan.

“Ada beda antara kuning raja dengan kuning kunyit”, ulas Asmadi ikhwal warna. Tangannya gesit dengan ragam jurus lipatan kain samping yang khas.

Berkali patik sedikit nyinyir bertanya cara mengenakannya. Dia tetap sabar dan senyum ringan khas Asmadi.

Momentum menjadi model dadakan pebusana khas Melayu Langkat yang tidak kami rencanakan itu, rupanya menyembulkan kegembiraan. Alamak.

Begitulah defenisi kesenian adalah idemditto kegembiraan dan hati senang.Senang adalah derivatif perasaan milik manusia yang bernama cinta.

Beberapa gambar diambil sudut bidiknya dari satu lekuk favorit Astakona. Kami pun terbahak agak keras tanda bersuka ria, seakan merayakan kegembiraan yang bukan rekaan.

Alahai, patik tak kuasa menahan diri. Langsung dan terang-terangan mengungkapkan sanjungan bangga pada Asmadi.

Itu ekspresi yang jujur menyokong konsistensi dan ketabahan Asmadi A.Rahman Hasibuan ikhwal menjaga sendratasik. Tabah menggiatkan sebab-sebab. Sebab-sebab yang indah.

Bértiga kami merancang sebuah helat sederhana yang menyokong bidang yang digeluti dengan cinta oleh sosok Asmadi. Itu isi bualan trialog kami usai sholat zuhur berjamaah di musholla rumahnya yang asri.

“Profesi manapun termasuk kesenian membutuhkan konsistensi. Itu yang ditunjukkan Asmadi”, kata Hidayat Anshari menilai jejak panjang berjenjang Asmadi.

Lebih 30 tahun belajar dan berkarya pada aras kesenian, tentu saja dengan serenceng cerita dan dinamika yang berwarna, adalah bukti konsistensi dan jejak-jejak prestasinya. Sabar dan konsisten adalah prestasi yang agung.

Sembari mereguk kopi Ulee Kareng asal Aceh, juadah aseli khas Deli dan sepinggan mie rebus ala Medan yang dihidangkan istrinya, sang pemilik spirit Astakona Asmadi, Hidayat Anshari dan patik terus saja larut dalam episoda bertukar cerita.

Sesekali kami menziarahi masa lalu berseragam putih abu-abu SMA. Juga mentertawakan diri sendiri, mengingat kawan yang sudah bertebaran dalam pelukan takdir sosial masing-masing.

Asyik dan perlu jujur mentertawakan diri sendiri secara “berjamaah”. Sehat bagi jiwa dan memancutkan enzim endorphin, enzim bahagia yang diperlukan kaum ‘Lolita’: lolos lima puluh tahun. Tak percaya, silakan mencoba.

‘ANAK TIUNG & WAKA-WAKA’

Patik sempat mewawancarai dan ambil gambar bergerak alias audio-vidio Asmadi untuk keperluan penulisan ini. Saya membayangkan acara “Astakona Geografic”. Temanya perihal motif dan ketekunannya, plus pernak-pernik sendratasik.

Dia menjelaskan mengapa budaya Melayu disukai dan bisa diterima karena terbuka dan memiliki anasir kosmopolitan.

Patik ingat lagu piala dunia Afsel ‘Waka-Waka’ yang ngetop pada tangga lagu dunia. Kiranya lagu seperti ‘Anak Tiung’ yang bergenre ceria dan ligat bisa mendunia, seperti ‘Waka-waka’, atau lagu ‘Maumere’ yang menasional.

Misi tulisan ini adalah cara saya menyusun ucapan terimakasih kepada sahabat saya Asmadi van Astakona, sang ‘Setanggi Pura’.

Mengapa? Sebab dulu dengan waktu yang sempit masih sempat Asmadi muda ligat mengirimkan group penari Melayu mengisi acara penyambut hadirin tamu, setakat pesta pernikahan patik hampir 21 tahun lalu di Medan.

Duhai pembaca, andai kata berkehendak alias ingin informasi dan bertanya sana sini atau berhajat pada presensi seni budaya Melayu, dan budaya lain pun, anda bisa mencoba talenta “tangan dingin” Asmadi A. Rahman.

Penulis merekomendasi, pertanyaan dan hajat berkesenian anda pasti bisa dijawab dan dipenuhinya dengan riang. Karena Asmadi adalah Astakona yang menyebarkan kebahagiaan, sang ‘Setanggi Pura’.

Ini bukan sembarang promosi, tetapi alahai itu lebih tepatnya sebuah apresiasi. Apresiasi pada Astakona yang dijiwainya lahir batin.

Kami ingin ke Astakona lagi mereguk “tuak cinta” dan membiarkan diri “mabuk” dalam perbincangan ikhwal kesenian. Tabik.

No comments