Alasan Datang Munas KAHMI: Terlanjur Medan, Eehh Terlanjur Sayang Putik Melati

0
Alasan Datang Munas KAHMI: Terlanjur Medan, Eehh Terlanjur Sayang Putik Melati

Patik kemaren, Ahad (8/10) tandang lagi ke Medan walau sehari saja. Sepenoh hari dan sepenoh hati demi helat senior pada sebuah resepsi bergenre resam Melayu. Sempat juga bertemu sejumlah tokoh alumni HMI, Prof.Dr.Hasim Purba Ketua Majelis Daerah (MD) Korp Alumni HMI (KAHMI) Medan dan Bahtiar Sinaga Ketua MD KAHMI Simalungun, Syahruzal Yusuf, eksponen KAHMI Sumatera Utara.

Seperti biasa tiap  kali ke Medan, patik  sempatkan lamat-lamat dalam diam menyorot aura wajah kota,   yang dulu ternama sebagai bandar dagang sepanjang kawasan Asia Tenggara. Itu terbukti dari jejeran warisan gedung tempo lama yang menjulang di sekitar Kesawan. Yang menunjukkan bukti bagaimana mesin kapital bekerja dan berjaya. Betulkah dugaan saya, tak mungkin diujarkan Medan tanpa Kesawan?

Medan itu kaya bangunan bersejarah. Bandingannya mungkin bisa ditengok kota tetangga. Bandar Melaka yang juga punya warisan lama bersejarah, bisa dipilih untuk membandingkan cara bagaimana memperlakukan Kesawan dengan “Bangunan Merah” ditepi sungai Melaka. Pas jika kota pelabuhan itu menasbihkan diri kota warisan bersejarah. Walau Melaka juga tengah membuktikan ambisi membangun kota baru hasil reklamasi bernama  “Melaka Gateway“.

Kosakata paling banyak mendapat perhatian di sana kiranya adalah “warisan” dan “muzium”. Itu pertanda Melaka menghargai sejarah. Bukan membongkar dan menjualnya. Walikotanya bersahaja namun kaya visi, yang bagi orang tak pandai  merawat imajinasi menyebutnya mimpi.

Setidaknya begitu tampak dari penampilan tutur bahasa dan polah laku Datuk Zainal bin Hussin, sang Datuk Bandar Melaka kala  membentangkan visi futuristik Melaka, Senin (18/09) lewat. Seakan hendak ujarkan: “Tak Mungkin Malaysia tanpa Melaka”, walau mereka sudah gemakan seloka: “Visit Melaka means visit Malaysia“.

Bagaimana dengan Medan? Adakah warisan sejarah yang dijaga dan diurus? Mengolahnya sebagai pundi?

Entahlah.  Padahal, jika geser sedikit saja ke kawasan bagian atas Medan arah Belawan,  banyak bagunan situs warisan bisa diandalkan.  Yang khas dan hanya ada di Deli, karena bertemali geliat zaman kala membangun  perkebunan.

Kisah nyata dan dramatis bagaimana keringat kuli kontrak menyulap belantara hutan perawan  menjadi kawasan perkebunan, memacakkan tiang pabrik dan hamparan bangsal lama, lusinan bangunan dan gudang penyimpan tembakau,  di sebelah sana ada  kilang-kilang  getah beraroma “duit” yang khas,   bangunan afdeling dan jalan-jalan kebun, rumah dinas dan instalasi jaringan kereta api.  Kiranya semua anasir itu bisa diolah suai menjadi babak drama wisata yang ditata apik molek  menjadi destinasi wisata paling anyar.

Patik membayangkan Medan mempunyai destinasi wisata berbasis warisan perkebunan,  lengkap dengan narasi kolaborasi mengisahkan modal dan politik lokal, iklan model lama disebar untuk rekrutmen kaum buruh migran asal luar Sumatera dalam agenda membangun perkebunan.

Soal itu menjadi makin menarik sebab diuraikan fasih pemandu wisata warisan perkebunan yang lahir di zaman digital alias Native Digital  bukan Native Plantationer.  Dengan bantuan Digital Tourisme,  sang pemandu wisata itu garda terdepan mengubak lagi aroma eksotika kisah sejarah dibalik digjaya perkebunan. Transformasi struktural dari belantara menjadi industri pasti penuh rona cerita ironis dan sekaligus humanis saing bergantian.  Sehingga menyumbang moral kota Medan kini menjadi multi etnis dan multi kultur. Pernah membaca novel Buya HAMKA bertitel “Merantau ke Deli”?

Ikhwal kisah-kisah membangun perkebunan itu yang masih tersisa sebagai situs berarsitektur antik dan bangunan lama kaya sejarah,  yang jika ditelusuri disekujur pori-porinya banyak cerita,  bisa dikelola sebagai obyek paling baru destinasi wisata Medan.  Konsepnya sedang patik renungkan. Kepada seorang kawan patik mengusulkannya sebagai “Heritage Plantation Tourism“.

*****

Kalau pas melalak di Medan, bergerak lasaklah lebih banyak.  Belokkan perjalanan ke lekuk kota. Jangan hanya mereguk kopi dan  hang out di hotel mewah, apalagi dikuasai asap rokok.

Bawalah diri dan akal budi anda jalan-jalan membeli visi.  Bak J. Nienhuis pertama kali datang ke Medan masa dulu bersama sang visi. Bawalah serta visi dan imajiasi bertitel mimpi milik anda ke Medan. Berwisata visi.

Di bawah pengaruh mabuk tuak visi bercampur mimpi bermerek inspirasi, pergi bergeraklah sedikit ke arah mata angin manapun,  anda akan segera berteriak syukur bahwa memang terbukti Medan adalah medan.  Medan dengan visi milikmu akan menentukan nasibmu.  Jangan ragu dan kalah duluan dengan kesan pandangan matamu kepada Medan  masa kini yang kata orang tak bervisi,  hanya bagaikan tempat “laga” keangkuhan dilangsungkan? Justru bagi patik,  dengan membawa serta visi, sejatinya Medan adalah pangkalan peluang.

Namun bisa saya pahami jika defenisi angkuh tanpa sentuhan seni adalah bukti anda telah tiba di Medan. Untuk apa kota kalau pori-pori kota tak bisa bersastra. Jangan merajuk  dari  Jakarta era  AniSandi nanti yang hendak menjadikan Jakarta Kota Bahagia. Soal Kota Bahagia pernah saya tulis untuk situs berita online transindonesia.com milik alumni HMI.

Bagi yang jomblo dengan imajinasi.  Bagi  yang gagal  dikunjungi inspirasi,  dia akan mengeluh stadium akut kepada Medan. Penampilan terkini Medan sebagai medan  itu  terbukti dengan jalan tersangkut-sangkut, lobang menganga-nganga dalam waktu lama-lama.  Klakson bersahut-sahut seperti irama suara dari aungan tontonan murah bernama “tong setan”.  Pahami itu dalam visi anda sebagai hiburan kota yang khas. Sebagai ciri anda sudah menemukan konsep baru kita sebagai “Citytainment“.  Anda harus sukses membayangkan itu sebagai musikalisasi  jalan yang unik dan hanya ada di Medan. Tantangannya hanya satu, anda harus membiasakan telinga dan mata dengan visi besar anda kepada Medan sebagai kota yang menghibur: Citytainment!

Tengoklah warisan lapangan Merdeka yang disana dulu anak bangsa dan para pemuda menggemakan teriak “MERDEKA”, kini telah bermetamorfosa menjadi tempat  foya-foya  pada harta bernama waktu luang,  yang  mengajarkan warga Medan kultur plesir idemdito memantik etos  bekerja keras untuk bisa “memakan” segala.

Apakah anda tak paham membedakan antara ruang publik terbuka hijau dengan lapak tempat makan privat bertema terbuka hijau, duhai tuan Datuk Bandar? Itu pertanyaan tersisa yang masih bisa diajukan. Saya titipkan via aktifis Komunitas Taman  Selwa Kumar yang acap kritis mengeritik minta kembalikan fungsi lapangan Merdeka. Merdekakan Lapangan Merdeka, teriaknya.

Namun, Medan tak tergantikan. Anak Medan pasti tau bagaimana lekak lekuk Medan.  Cara komunikasi dan gaya cakap mereka.  Mereka soor dan bangga kepada unik khas kotanya. Apapun kisah dan keadaannya dulu dan kini, anak Medan bangga menjadi anak Medan. Diaspora Medan sedunia idemditto demikian. Silakan buat penelitian kalau tak percaya.

Sepertinya mereka bertutur begini: tak mungkin kami mengkhianati cinta kota kami hanya karena becek dan jalan berbilang lobang, riuh suara klakson dan suara gemuruh auman  mesin  motor pengguna jalan berlomba ketangkasan.  Kritik paling tajam yang ada di koran media mainstream,  maupun via sosial media yang dialamatkan kepada Medan, itu adalah tanda perhatian ala anak Medan kepada kotanya. Terlanjur sayang kepada Medan.

Padahal, itu bukan soal jika dipahami dengan visi. Yakni visi yang memahami Medan sebagai kota yang pas untuk melafalkan segala kritikan. Menguji nyali.  Kota bervisi sedemikian, telah membuat diaspora Medan gagal membawa benci ke dalam hatinya kepada kotanya. Kota yang melahirkan anak Medan yang merawat visi   sepeřti ini: “Survival for the Fittest“. Yang mengajarkan bahwa untuk menang musti berjuang.  Kemenangan dimulai dengan visi dan merumuskannya sebagai  model aksi.  Orang menyebutnya ‘business model’.  Medan  adalah role model  untuk kota yang  warganya  tabah berjuang.  Sama  seperti  kotanya  juga  berjuang,  termasuk melawan air banjir yang disederhanakan sebagai air tergenang.

*****

Bagaimana dengan HMI? Akankah alumni HMI Medan adalah role model untuk kader yang tabah berjuang? Silakan berpendapat.  Silakan pula ujarkan pendapat mengapa  anda kembali kepada almamater HMI Medan? Yang sebentar  lagi menghelat Munas KAHMI.  Selain alasan dan pendapat karena terlanjur sayang, atau terlanjur “hutang” nasi umat dan rindu suasana Markas Alimbas (Adinegoro Limabelas).

Juga alasan normatif akibat terlanjur menjadi alumni tiga huruf: H.M.I, karena visi. Kiranya HMI terlanjur menjadi visi besar sudah terbukti. HMI yang diujarkan Jenderal Sudirman sebagai Harapan Masyarakat Indonesia, sudah terbukti.    Aha…, apa jadinya Indonesia tanpa HMI?  Apa  jadinya  Indonesia  seperti  sekarang  ini  jika ayahanda  Lafran Pane urung membentuk HMI 5 Februari?   Visi besar ayahanda Lafran Pane  dimodelkan  menjadi  HMI.  Lantas apa visi anda dan kita kalau ditamsilkan sebagai Lafran Pane muda?

Selain visi, secara organisatoris-idiologis,  menjadi alumni HMI karena terlanjur ikut latihan kader dan terisinya visi dengan nilai. HMI menyebutnya Nilai Identitas Kader dengan akronim NIK yang sebelumnya Nilai Dasar Perjuangan, akronimnya NDP.   Visi dan nilai adalah dua sejoli selalu saling mencintai dan saling membantu mereproduksi energi.

Kata “perjuangan”  disimpan  masuk  ke dalam sebagai esensi dan strategi, bukan sebagai judul lagi.  Kiranya NDP ataupun NIK dalam kualitas sebagai visi dan nilai perlu dibumikan dan dienergikan guna mempersatukan alumni HMI.  Acapkali kita lihai mencari “judul”, namun abai kepada akar rujukan: Visi dan Nilai, disingkatkan menjadi “Vini”.

Menjadi alumni HMI adalah terlanjur sosial yang pasti bagi anggota HMI. Setiap anggota HMI pasti menjadi  alumni HMI.  Alumni yang ber-“Vini”-kan Rahmatan lil Alamin. Walau saya barisan yang menolak pandangan bahwa menjadi alumni HMI tidak idemditto menjadi KAHMI.

Setiap anggota HMI dan alumni HMI pasti saling kenal karena karakter dan sistem rekrutmen anggota HMI dan sistem training formal HMI.  Kalau si Datuk A mengaku  alumni  HMI,  misalnya  alumni  HMI  Medan,  pasti dan cepat bisa langsung dikonfirmasi: komisariat mana, periode siapa, training dimana, instruktur dan Master of Training (MOT)-nya siapa?  Dijamin ketahuan!   Dengan sistem begini diyakini efektif bebas susupan baik organisatoris maupun historis.

Jika  semisal  Tuan MJ, stambuk tahun 1985 Fakultas Hukum USU, yang mengaku ikut LK 1 tahun 1987, LK 2 dan Pusdiklat di Jakarta, pasti bisa diuji sahih jejak nasabnya. Dia kira-kira umur 50an itu pasti kenal Ketua Umum HMI Cabang Medan saat itu Kakanda  Irgan Chairul Mahfiz,  sekarang anggota DPR RI dan petinggi DPP PPP.   Pasti kenal dan memuji talenta instruktur dan pemateri andalan yang membawakan  materi “AD dan ART HMI”  kala itu adalah bang Syamsul Rivai Harahap,  pasti kenal tokoh Komisariat  FPIPS  IKIP  Medan saat itu yang beken dan kadervtulen adalah  Aa Hadhy Priono,  pasti tau Ketua Umum Komisariat HMI FH USU  1988/89 adalah Marasamin Ritonga. Begitulah  mekanisme sosial yang “pasti” efektif  menguji jejak nasab genetis kader HMI berlangsung alamiah.

Tersebab itu, jika ada yang mengambil acuan dan timbangan, bahwa karakter kepemimpinan seorang KAHMI bisa dibaca dari kariernya di HMI, boleh saja dan jangan dilarang kepercayaan seperti itu.   Tersebab itu setiap alumni HMI ya…pasti anggota KAHMI, karena yang diterapkan stelsel pasif. Bukan stelsel aktif seperti menjadi anggota PERADI.   Kecuali kalau KAHMI hendak mendaftar dan mengikuti verifikasi, atau hendak bernegosiasi dengan sejarah masa depan, yakni memilih tidak sebatas korp alumni saja lagi seperti kini.

Walaupun  hal ikhwal data anggota dan alumni itu masih jadi soal karena mengandalkan ingatan sejarah,  namun  hal itu menjadi alasan sahih mengapa alumni HMI selalu merawat jejak nasab genetisnya sebagai kader alumni HMI.   Menjaga otentisitasnya sebagai kader alumni HMI.  Sebab itu biarkan saja jika banyak yang rewel dan rajin menguji silang jejak nasab kekaderan seorang alumni HMI.   Atau klaim diri sebagai alumni HMI.  Anggap saja itu bagian dari caranya menghormati kualitas insancita.  Jurusnya melakukan benchmarking kualitas HMI sebagai organisasi kader yang kuat dalam “Vini” dengan menguji, lebih tepatnya mengonfirmasi, jejak nasab genetis kader HMI.

Jangan pula kita marah jika ada yang gigih dalam berpaham bahwa soal perlunya data anggota dan alumni HMI.  Atau ada yang berpaham bahwa yang penting bagaimana hendak mengubah pangkalan data potensi alumni HMI itu menjadi pangkalan energi bagi negeri. Energy for Islam & Indonesia. Kiranya jangan  sampai  satu pun butir kesimpulan final adalah takdir yang  tak kunjung datang hingga melupakan tesa “Energy for Islam & Indonesia“.    Biarkan saja debat antara perlunya data dan data dengan perlunya kerja dan kerja menjadi kekayaan diskusi  jika pangkalan data alumni HMI  itu hendak dicegah menjadi salah satu paradoks HMI.

Paradoks lain, cara rekognisi sebagai alumni dengan stelsel pasif atau rekognisi pasif, namun mengapa sistem rekrutmen calon Majelis KAHMI dengan pendaftaran alias mereferensi stelsel aktif. Akankah sang “energi” terbaik tokoh alumni HMI akan tak segan mendaftar dan duduk sopan di kursi untuk diuji “fit and proper” kadar ketokohannya, lagi?   Mungkin maksudnya untuk kualitas ikhwal “Vini”, jika demikian bukankah sejarah dan waktu adalah juri yang adil?

Kiranya menjadi Majelis KAHMI di level manapun mustinya seperti seperti mendaulat pemimpin.  Seperti mendaulat juri pada Mahkamah Keadilan. Kiranya menjadi pemimpin bukan proses 2 jam pembentangan dan diskusi tak dalam.   Walau tak juga beralasan jika hanya berharap banyak dari kegiatan formal beberapa hari Munas KAHMI.

Kulturkanlah  sebuah  adab bahwa setiap yang berminat musti bisa menakar diri ikhwal apa “Vini” yang dikembangkan dan  sudah melakukan apa demi Rahmatan lil Alamin, sudah mencatatkan apa pena sejarah atas namanya dalam menggiatkan maslahat dan martabat umat (“hatbat umat”).  Itu anasir penting mendaulat pemimpin yang melakoni hatbat umat.

*****

Majelis pembaca. Terlanjur yang indah dan bertenaga ketika di Deli adalah terlanjur menjadi alumni HMI Medan. Takdir sosial yang fardhu disyukuri dengan loyal dan kegembiraan.  Seperti loyal pantai kepada laut. Loyal angin kepada perahu. Seperti loyal merah kepada putih. Seperti loyal hitam kepada hijau. Seperti menyatu setia anasir hitam mata kepada putih bola mata.

Walau loyal dan ukhuwah tak harus dipertontonkan di hotel mewah, namun Medan quodnon Sumatera Utara, dengan potensi aktual alumni HMI yang kelas bintangnya berkualitas 5 bobot insancita,   maka pertanyaan mendasar yang musti diemban:   Medan/Sumut hendak mencapai perubahan  apa dengan menggelar Munas KAHMI disana? Akankah menggerakkan maslahat dan martabat umat? Akankah menghasilkan energi membangun negeri yang Rahmatan lil Alamin?

Akankah  kita datang ke  sana untuk membaktikan setia kepada 5 kualitas insan cita,  atau membuktikan  Islam adalah corak yang kuat dan maslahat di Sumateta Utara.   Atau, seperti rancangan seorang kawan, kita datang helat itu karena terlanjur sayang kepada  HMI dan hendak mencoba sensasi “Citytainment” ala Medan.   Alasan patik?  Yaaa, terlanjur cinta kepada korp putik melati. Sembari mengenapkan hajat “Heritage Plantation Tourism“. Allahu a’lam. Billahittaufiq wal Hidayah. Tabik. (MUHAMMAD JONI, alumni HMI Medan).

No comments