Ajaran Kausalitas & Cemburu kepada Buku

0

Setakat usai mengajar PKPA (Pendidikan Profesi Advokat) kerjasama PERADI dengan Universitas BINUS, sejawat saya Dr. Ahmad Sofian, SH.MA. mengasi buku bertitel ‘Ajaran Kausalitas Hukum Pidana’ (“AKHP”). Patik pun memberinya buku ‘Ayat-Ayat Perumahan Rakyat”. Saling bertukar buku adalah kegembiraan yang mewah.

Walau pernah membaca versi ringkasan disertasi, baru kali ini sempat menguliti “AKHP”. Ajaran Kausalitas ini paling menentukan siapa terdakwa. Semisal menemukan kausal tenggelamnya kapal rute Tigaras-Simanindo yang membuat Danau Toba berwajah duka lara. Aha…, kausalnya nakhoda, angin dan cuaca, lalainya otoritas dinas perhubungan, syahbandar, atau siapa. Akankah cuaca menjadi terdakwa?

Menurut teks buku dari disertasi doktor ilmu hukum ini, “Literatur hukum pidana Indonesia banyak melakukan repetisi dalam menjelaskan doktrin kausalitas”. “Ajaran kausalitas menjadi kering dengan yurisprudensi pengadilan Indonesia”. Repetisi (pengulangan) dan kering. Walau repetisi dan kering, bisa jadi banyak sosok perempuan seperti istri Zubair bin Bakkar yang cemburu. Kog cemburu? Sabar sebentar.

Sebelah menyebelah dengan buku berkulit jingga “AKHP”, patik membaca beberapa ayat buku ‘1001 Kisah Teladan’ karya Hani al Haj. Rupanya, era dulu banyak teladan, jaman now, ontahlah. Entah apa kausalnya teladan tak jumbo berkembang sekarang. Ayat teladan ke-20 dari 1001 teladan buku itu berjudul ‘Cemburu Pada Buku’. Kaum perempuan dan istri penting mengetahui agar tak surplus cemburu.

Begini isiya: “Kemenakan Zubair bin Bakkar mengatakan bahwa pamannya itu lelaki yang amat baik terhadap keluarganya. Ia tidak berpikir menikah lagi dan tidak pula berminat pada budak perempuan. Mendengar pujian kemenakannya itu, istri Zubair bun Bakkar yang paham benar bahwa suaminya adalah kutu buku berat berkata, ‘Demi Allah, buku-buku itu lebih berat membebani hatiku daripada tiga istri lagi!'”.

Istri Zabair bin Bakkar cemburu, pun hanya kepada buku. Seperti buku menjadi “madu”. Ahmad Sofian, akankah ajaran kausalitas menjadikan buku sebag ai terdakwa? Atau, ajaran kausalitas menjadikan Zubair bin Bakkar tokoh yang amat baik pada keluarga? Tabik.

No comments