AS kembali ke Emas dan Perak

0
AS kembali ke Emas dan Perak..

Tak hanya Utah dan Virginia, ”gerakan” kembali ke koin emas dan perak terus merambah ke sekujur daratan AS, wajah sistem ekonomi Amerika Serikat (AS) masa depan sepertinya akan berubah. Sejumlah kalangan di Negeri Paman Sam itu gencar mengusulkan penggunaan koin emas dan perak sebagai alat transaksi. Negara Bagian Utah menjadi pelopornya. Belum lama ini, sejumlah wakil rakyat di sana menyusun rancangan undang-undang terkait hal tersebut. RUU itu telah lolos hingga ke tingkat Kongres melalui pemungutan suara. Jika RUU itu nanti disahkan maka koin emas dan koin perak akan menjadi alat tukar alternatif bagi rakyat Utah selain uang kertas dolar.

Utah tak sendiri. Keinginan memakai koin emas dan perak juga berkumandang dari Negara Bagian Virginia. Disarikan dari berbagai sumber, Virginia malah lebih awal mengajukan proposal serupa. Medio Januari lalu, delegasi Partai Republik Virginia, Bob Marshall meminta Majelis Umum mempertimbangkan pencetakan dan penggunaan koin emas dan perak sebagai alat transaksi alternatif bagi warganya.

Tak hanya Utah dan Virginia, ”gerakan” kembali ke koin emas dan perak terus merambah ke sekujur daratan AS. Dilaporkan, selusin negara bagian mulai melirik koin emas dan perak untuk alat transaksi. Ide ini bertumbuh di Idaho, South Carolina, New Hampshire, Tennesse, Indiana, Iowa, Oklahoma, Vermont, Georgia, Missouri dan Washington.

Nilai Tukar Dolar

Keinginan memakai koin emas dan perak sebagai alat transaksi muncul setelah mencermati krisis ekonomi yang melanda AS beberapa dekade terakhir. Realitas itu membuka pikiran sebagian rakyat AS meneliti ulang sistem moneter yang mereka pakai pasca-kebijakan Presiden Nixon (1971) yang melepaskan keterikatan pencetakan uang kertas dolar AS dari baku emas dan perak. Dalam ekonomi, ini dikenal dengan sebutan fiat money –dolar dicetak dan diedarkan tanpa sandaran emas dan perak. Dolar diterima sebagai alat tukar (mata uang) karena dipaksakan penggunaannya oleh mekanisme politik hukum negara (legal tender).

Seiring penerapannya, sistem itu menunjukkan kelemahan. Hari ke hari, grafik kurs dolar AS cenderung merosot. Dolar labil dan rentan gejolak. Lainnya, soal inflasi. Uang kertas cetakan The Federal Reserve itu terus kehilangan daya belinya dari masa ke masa. Ini membuat sebagian warga AS ketar-ketir. Maklum, uang yang mereka simpan tidak lagi aman sebagai medium pelindung harta. Inflasi telah merampok secara tersembunyi hasil kerja keras mereka yang ditabung dalam wujud dolar AS.

Semua kekhawatiran itu juga terangkum dalam pertimbangan pengajuan RUU tersebut. Di situ disebutkan pandangan sejumlah ahli yang memprediksi akan terjadi krisis yang disebut dengan ”kehancuran mata uang akibat hiper-inflasi di masa depan”. Ini sekaligus sinyal bahwa dolar, cepat atau lambat, akan menunjukkan wujud aslinya sebagai selembar kertas biasa, tak berbeda dengan kertas lainnya.

Menggunakan koin emas dan perak dipercaya mampu mengatasi dampak buruk fiat money. Disebabkan terbuat dari logam mulia, koin emas dan perak memiliki sejumlah keunggulan dibanding uang kertas. Koin dwi-logam itu bernilai karena bahannya. Bukan seperti uang kertas yang bernilai karena dibubuhkan cetakan angka di atasnya. Grafik juga menunjukkan ketahanan emas dan perak terhadap inflasi. Nilainya stabil bahkan terus menguat. Emas dan perak mampu menjaga daya beli. Beda dengan uang kertas yang nilainya mudah diguncang gejolak, rentan inflasi bahkan manipulasi.

Koin Dinar Dan Dirham

Aspirasi sejumlah warga AS untuk keluar dari dampak fiat money, beralih ke koin emas dan perak, bukan solusi baru. Umat Islam, jauh-jauh hari sudah memiliki tuntunan lengkap perihal bagaimana tatanan keuangan dijalankan. Dalam Islam, uang mesti terbuat dari emas dan perak. Dalam terminologi Islam, dikenal sebutan dinar dan dirham.

Dinar adalah koin terbuat dari emas seberat 4,25 gram (22 karat). Dirham, koin perak murni seberat 2,9 gram. Keduanya digunakan sejak masa kedatangan Rasululah Saw hingga Kekhalifahan Usmani (1921). Selama 1400 tahun, dinar dan dirham digunakan untuk alat menunaikan zakat, sedekah, mahar, tabungan hingga transaksi perniagaan. Allah SWT menciptakan emas dan perak. Dia punya rencana dibalik kuasa penciptaan itu. Menurut al-Ghazali, koin emas dan perak adalah alat transaksi yang memberi keadilan. ”Allah menciptakan dinar (emas) dan dirham (perak) sebagai ’hakim penengah’ di antara seluruh harta sehingga dengan keduanya harta bisa diukur.”

Sistem uang kertas yang kini mendominasi dunia sejatinya bermasalah. Mantan Dirut Bank Muamalat A. Riawan Amin menyebut sistem itu sebagai salah satu pilar keuangan setan (satanic finance) yang menjadi tonggak tegaknya sistem riba moderen. Uang kertas sesungguhnya tidak memiliki nilai selain wujudnya sebagai kertas. Jika uang kertas dirusak atau dibakar maka seketika tidak akan berharga. Bandingkan dengan koin dinar emas dan dirham perak yang sekalipun dibakar atau dirusak, ia senantiasa bernilai karena dari jenisnya memang sudah bernilai.

Sistem uang kertas juga menjadi alat kolonialisme moderen. Sistem ini menjadi instrumen penaklukan sebuah negara tanpa perlu pengerahan kekuatan militer. Sebuah negara yang nilai mata uangnya kuat bisa menundukkan negara lain dengan beberapa trik permainan moneter hingga membuat nilai mata uangnya terjungkal. Bila krisis moneter terjadi maka krisis lainnya di berbagai bidang kehidupan gampang tersulut.

Kini AS mulai melangkah memilih koin emas dan perak sebagai sistem moneter alternatif. Bagaimana dengan umat Islam Indonesia? Kita tak perlu berkiblat jauh-jauh ke AS. Sudah 10 tahun, dinar dan dirham beredar di Nusantara dan digunakan dalam berbagai aktifitas muamalat sehari-hari, utamanya untuk pembayaran zakat, sedekah, simpanan haji, tabungan pendidikan, mahar dan alat barter sukarela.

Koin dinar dan dirham telah hadir sebagai salah satu jalan keluar dari sistem ekonomi ribawi masa kini beserta dampak buruknya. Di atas segalanya, kehadiran kembali dinar dan dirham adalah menjadi jalan awal bagi umat Islam untuk menaati larangan Allah dan Rasul-Nya yang mengharamkan praktik riba.

Penulis anggota Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Sumut

No comments