1 dari 117 Bayi Tewas dalam Kandungan Akibat Asap Rokok

0
1 dari 117 Bayi Tewas dalam Kandungan Akibat Asap Rokok

Stillbirth atau bayi lahir mati dipicu oleh banyak sebab, salah satunya paparan asap rokok pada ibu hamil. Meski tidak merokok, ibu hamil yang menjadi perokok pasti  jauh lebih berisiko mengalami keguguran di tri smester akhir kehamilan.

Bahaya rokok terhadap kehamilan sudah banyak diteliti, namun hanya sedikit yang mengungkap hubungannya dengan risiko stillbirth atau bayi lahir mati pada tri smester akhir. Kalaupun lahir dalam kondisi hidup, risiko lainnya adalah cacat otak.

Hal ini terungkap dalam penelitian Dr Joan Crane dari St John and Colleagues, yang dipublikasikan baru-baru ini dalam An International Journal of Obstetrics and Gynecology. Penelitian ini melibatkan 12.000 ibu hamil di Kanada, 11 persen di antaranya adalah perokok pasif.

Asap rokok yang dihisap oleh para perokok pasif sebenarnya terlalu banyak, hanya sekitar 1 persen dari yang dihisap oleh perokok aktif. Namun penelitian ini mengungkap, dampaknya sangat besar bila dibandingkan dengan ibu hamil yang sama sekali bebas dari asap rokok.

Risiko bayi lahir mati pada perokok pasif teramati sebesar 0,83 persen, sementara pada ibu hamil yang tidak terpapar rokok hanya 0,37 persen. Jika disesuaikan dengan faktor lainnya, maka diperkirakan rokok menyebabkan kasus 1 kematian pada 117 kelahiran bayi.

“Angka ini sangat besar. Kita sudah bisa menyimpulkan bahwa dengan menjadi perkokok pasif, seseorang bisa mengalami keguguran,” ungkap Dr Hamisu Salihu, ahli kandungan dari University of South Florida saat mengomentari hasil penelitian Dr Crane, seperti dikutip dari Reuters, Senin (2/4/2011).

Selain memicu keguguran pada masa-masa menjelang kelahiran, asap rokok juga bisa menghambat perkembangan sel otak. Bayi yang dilahirkan perokok pasif memiliki lingkar kepala rata-rata 0,24 persen dibanding rata-rata bayi yang dilahirkan ibu-ibu bebas asap rokok.

“Meski tidak terkait secara langsung, ukuran lingkar kepala bayi berhubungan dengan Intelligence Quotient (IQ) atau kecerdasan,” ungkap Dr Salihu.

No comments